Emytos
PERINGATAN : Beberapa fitur mungkin tidak akan berfungsi karena template masih dalam perbaikan.

MAKALAH HADIS : KEJUJURAN


Sumber Gambar : http://www.bingkaiberita.com/wp-content/uploads/2013/11/polisi-tidak-mau-suap.jpg


BAB I
P E N D A H U LU  A N

A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang benar. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk meluruskan aqidah dan akhlak umat manusia. Islam mengajarkan kita bagaimana berprilaku terpuji, baik dalam hidup bermasyarakat maupun dalam bernegara seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan yang baik yang patut dicontoh dan diikuti oleh umatnya. Seperti yang kita ketahui Rasulullah SAW memiliki sifat-sifat terpuji yaitu: siddiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan) dan Fatonah (cerdas).
Namun pada kenyataannya di zaman sekarang ini banyak sekali kita melihat orang yang beragama islam tetapi prilakunya tidak mencerminkan seorang muslim. Contohnya melakukan tindakan korupsi, kebiasaan mencontek yang dilakukan pelajar pada saat ujian, berprasangka buruk terhadap orang lain. Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk kedalam perbuatan tercela yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah para remaja, karena remaja-remaja pada saat ini cenderung terpengaruh oleh buduya-budaya luar. Contonya: dalam berpakaian, tingkah laku, khususnya bagi remaja putri banyak sekali kita melihat diluar sana remaja-remaja putri yang tidak menutup auratnya dalam berpakaian, seperti tidak menggunakan jilbab pada saat keluar rumah, menggunakan pakaian yang serba ketat, memakai rok mini, sehingga bisa menimbulkan fitnah. Kemudian dari segi pergaulan, remaja saat ini banyak sekali kita melihat pergaulannya yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, seperti: mengkonsumsi narkoba, melakukan sex bebas, tauran dan lain sebagainya. Padahal mereka beragama islam tetapi prilakunya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim.
Itulah yang menjadi pokok permasalahan saat ini bagaimana caranya genesasi-generasi penerus bangsa ini bersikap dan berprilaku akhlakul karimah yang dicintohkan oleh Rasulullah SAW. Karena dengan akhlak yang terpuji manusia akan mendapatkan derajat yang tinggi, baik dimata Allah SWT ataupun dengan sesama manusia. Begitu juga sebaliknya, dengan berakhlak tercela manusia akan hina derajatnya disisi Allah SWT dan dihadapan manusia.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah:
1. Apakah pengertian Jujur?
2. Apakah Macam-macam Jujur?
3. Apakah Pengaruh Jujur dan Kebohongan?


BAB II

P E M B A H A S A N

A. Pengertian Jujur

Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sebuah kebenaran atau bisa dikatakan sebuah pengakuan akan sesuatu yang benar. Semisal apabila ada seseorang yang menceritakan informasi tentang gambaran suatu kejadian atau peristiwa kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.

Menurut al-Raghib, jumhur ulama’ berkata : “kebenaran atau kejujuran adalah bila sesuai dengan realitas, sedangkan kedustaan adalah ketika berbeda dengan realitas”. Ulama’ lain berkata : “kebenaran adalah apa yang sesuai dengan keyakinan, sedangkan kedustaan adalah apa yang berbeda dengan keyakinan”. 

Kejujuran (kebenaran) ialah nilai dari keutamaan yang utama-utama dan pusat akhlak, dimana dengan kejujuran maka suatu bangsa menjadi teratur, segala urusan menjadi tertib dan perjalananya adalah perjalanan yang mulia. Kejujuran akan mengangkat harkat pelakunya di tengah manusia, maka ia menjadi orang terpercaya, pembicaraanya disukai, ia dicintai orang-orang, ucapanya diperhitungkan oleh para penguasa, dan persaksianya diterima di pengadilan. Dengan ini Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk berlaku jujur, sebagaimana juga Al-Qur’an memerintahkan kepada kita dalam firmanya yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang benar atau jujur”. (9/Al-Taubah 119.)

Kebenaran (kejujuran) berada pada ucapan, akidah dan perbuatan. Kebenaran dalam ucapan adalah ketika sinergi dengan isi hati atau realitas. Kebenaran akan membawa anda berkeberanian bicara dan berkehati-hatian sebelumnya dan tidak mengatakan tanpa dasar pengetahuan. Ketika membicarakan tentang niatan maka jadikanlah pembicaraan itu sejalan dengan niatan kita. Dan jika berjanji maka jadikanlah niatan memenuhinya sebagai kawan setia kemauan. Janganlah meminta pemahaman tentang sesuatu ketika anda sudah mengetahui dengan maksud membujuk orang-orang yang mendengarkan.

Kejujuran adalah ketepatan antara ucapan, isi hati dan realitas yang diberitakan, dimana apabila syarat ini tidak terpenuhi maka bukanlah kejujuran, tetapi kedustaan atau diantara kejujuran dan kedustaan seperti ucapan orang munafik. Istilah yang biasa muncul adalah As Shidiq. As Shidiq ialah orang yang dikenal berkejujuran. Terkadang kata shidiq ini juga digunakan untuk kebenaran dalam keyakinan.

Kita ketahui bahwa sikap jujur merupakan sebagai sumber keutamaan dan sikap dusta sebagai sumber kehinaan, karena dusta menjadikan bangunan hubungan manusia menjadi retak, perjalanan kehiduan jadi tidak stabil, para kawan berguguran jauh dari pandangan mata, dimana mereka tidak lagi membenarkan ucapanya, tidak bertanya terhadap langkah perilakunya dan tidak betah ketika dekat denganya. Disisi lain adalah pembicaraanya dibuang dan persaksianya tidak diterima. Dengan itu nabi melarang untuk berdusta. Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang mengancam terhadap pendustaan. Maka dari itu, pertahankanlah pola kejujuran, dan berkedudukan luhur ditengah masyarakat dan bermartabat luhur disisi Allah. Janganlah berbohong, supaya tidak termasuk orang jahat dan berdusta. Jadikanlah catatan dan amal perbuatan yang putih bersih agar berpendidikan luhur serta diridloi oleh Allah SWT. Jadi sebenarnya kita bisa membedakan lebih baik mana antara sikap jujur dengan bohong, karena kalau kita lebih memilih untuk bersikap bohong maka madlorotlah yang nantiya akan kita dapatkan.

B. Macam - Macam Kejujuran
Penulis kitab al-Manazil mengatakan bahwa jujur adalah istilah untuk mengungkapkan hakikat sesuatu yang berwujud dan kejadian yang sesuai dengan kenyataannya. Makna lain kejujuran adalah tercapainya sesuatu dengan sempurna, berikut kekuatan dan seluruh elemennya.

1. Jujur dalam berbicara. 
Jujur dalam perkataan adalah bentuk kejmasyhur.Setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya , yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan, kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu.
Ketika hendak pergi berperang, Rasulullah saw. selalu menyembunyikan maksudnya agar tidak terdengar oleh pihak musuh karena dikhawatirkan mereka akan siaga untuk memerangi beliau. Rasulullah saw. bersabda,

"Tidaklah (dikatakan) pendusta orang yang mendamaikan manusia, berkata baik, dan menyampaikan (berita) baik." (HR Bukhari dan Muslim)

Seorang hamba wajib jujur ketika dia bermunajat kepada Tuhannya. Misalkan jika dia berikrar, "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi," tetapi ternyata hatinya tidak pernah mengingat Allah swt. dan sibuk dengan kepentingan dunia. Itu berarti dia telah berbohong. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan niat yang tulus adalah fondasi setiap amal.

Setiap muslim dituntut untuk selalu berkata jujur, walau pun bercanda. Rasulullah saw. bersabda,

"Aku akan menjamin rumah dipinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walau pun (dalam posisi) benar, dan (aku akan menjamin) rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan kata dusta dalam keadaan bercanda, dan (aku akan menjamin) rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berbudi pekerti tinggi bagi orang yang berbudi pekerti mulia." (HR Abu Dawud; hadits hasan)

Setiap muslim wajib jujur ketika berjual beli. Dengan kata lain, dia harus berkata jujur, tidak menyuap dan tidak menipu. Tersebarnya Islam di seluruh belahan negara Afrika, bahkan di seluruh pelosok dunia, disebabkan oleh kejujuran orang-orang muslim dalam praktik jual-beli mereka. Orang-orang non muslim takjub dengan kejujuran dan toleransi yang ada pada tubuh umat Islam. Itulah yang menyebabkan mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Kini, umat Islam. Kini umat Islam sangat membutuhkan etika dan transaksi yang telah diatur oleh Islam demi mewujudkan kebahagiaan seluruh umat manusia.

Kekasih Allah swt. Ibrahim a.s., telah memohon Allah swt. agar menganugerahinya lisan yang jujur. Sebagaimana firman-Nya,


"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu'ara[26]:84) 

Allah swt. pun memuliakannya sebagaimana diceritakandi dalam Al-Qur'an,
"Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari merek dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'acub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia." (Maryam [19]:49-50)

Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. dengan doa tadi agar bisa mendapatkan keampunan-Nya dan perantara yang dapat membantu seorang hamba untuk beramal saleh. Allah swt. berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." al-Ahzab [33]:70-71)

Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab tafsir, maksud dari 'perkataan yang benar' adalah perkataan yang jujur atau kalimat la ilaha illallah.

2. Jujur dalam niat dan kehendak.
Kejujuran bergantung pada keikhlasan seseorang. Jika amalnya tidak murni untuk Allah swt., tetapi demi kepentingan nafsunya berarti dia tidak jujur dalam berniat, bahkan bisa dikatakan telah berbohong, seperti kisah tiga orang yang terdapat di dalam hadits berikut ini. Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya orang yang pertama kali akan dimasukkan ke neraka adalah orang yang mati syahid. (pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapakan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang terebut menjawab, 'Hamba berperang di jalan-Mu (untuk menegakkan agama-Mu) hingga hamba gugur sebagai syahid." Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pemberani (pahlawan) dan kamu sudah mendapat gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya (ke neraka). Kemudian diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan ke dalam api neraka. Berikutnya, seorang laki-laki penuntut ilmu, lalu dia mengajarkan ilmunya kepada orang lain, dan dia pun gemar membaca Al-Quran. (Pada hari Kiamat kelak, dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat 9yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, "Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab , '(Hamba gunakan nikmat tersebut) untuk menuntut ilmu, lalu hamba mengajarkan ilmu (yang hamba peroleh kepada orang lain), dan hamba juga gemar membaca Al-Qu'ran ikhlas kerana engkau.' Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuanmu menuntut ilmu agar kamu dikatakan orang alim, dan tujuanmu membaca Al-Qu'ran agar kamu dikatakan qari, dan kamu sudah mendapatkan (gelar itu).' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya ( ke neraka), lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkanlah dia ke dalam api neraka. Selanjutnya, seorang laki-laki yang dilapang-kan rezekinya oleh Allah dan Ia memberinya semua jenisharta. (Pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab, 'Ham-ba tidak pernah meninggalkan satu jalan (jihad) pun yang Tuhan kehendaki agar (hamba) berinfak di jalantersebut, kecuali hamba berinfak dengan ikhlas karena engkau. Allah befirman kepadanya, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berinfak agar kamu disebut sebagai dermawan, dan kamu sudah mendapatkan gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkan (ke neraka) lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan dia ke dalam api neraja." (HR Muslim)

Hadis di atas mengisahkan tentang tiga mecam orang, yaitu orang yang gemar mengajarkan Al-Qur'an, bersedekah, dan berjihad di jalan allah swt. Akan tetapi, Allah swt. mendakwa merekatelah berbohong pada niat dan kehendaknya, bukan pada malannya sebab merekabenar-benar melakukan apa yang mereka akui.

Oleh kerana itu, Allah swt. mengingatkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya bahwa jika mereka berniat untuk mendapat-kan ridha-Nya, mengorbankan harta dan jiwanya demi tegakkan Islam berarti dia telah mempersembahkan yang terbaik bagi agama, dunia, dan akhirat mereka. Allah swt.berfirman tentang hal ini,

"...Sebab apabila perintahlah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, nescaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad [47]:21)

3. Jujur dalam berkeinginan dan dalam meralisaikannya.
Keinginan atau tekad yang dimaksudkan adalah seperti perkataan seseorang, "Jika Allah memberiku harta, akau akan menginfakkan semuanya." Keinginan seperti ini ada kalanya benar-benar jujur dan da kalanya pula masih diselimuti kebimbangan. Kejujuran dalam merialisasikan keinginan, seperti apabila seseorang bertekad dengan jujur untuk bersedekah. Tekas tersebut bisa terlaksana bisa juga tidak. Penyebab tidak terealisainya tekad tersebut bisa saja karena dia memiliki kebuntuan yang mendesak, tekadnya hilang, atau lebih mengedepankan kepentingan nafsunya. Berkaitan dengan hal ini Allah swt. berfirman,

"Di anatara orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di anatar me yang gugur, dan di ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak sedikit pun tidak mngubah (janjinya)." (al-Ahzab [33]: 23)

Berkaitan dengan sifat jujur dalam menepati janji, Allah swt. memuji Nabi Ismail a.s. dan memerintahkan kita agar meneladaninya. Sebagaimana firman-Nya,

"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi." (Maryam [19]:54)

4. Jujur dalam bertindak
Kejujuran dalam bertindak berarti tidak ada perbedaan antara niat dan perbuatan. Jujur dalam hal ini juga bisa berarti tidak berpura-pura khusyu dalam beramal sedangkan hatinya tidaklah demikian.

Salah seorang sahabat pernah berkata, "Aku berlindung kepda Allah swt. dari khusyu munafik." Para sahabat yang lain bertanya, "Apa yang kamu maksud dengan khusyu yang munafik?' Sahabat itu menjawab, "Itu adalah jika kalian melihat gerakan tubuh khusyu, padahal tidak demikian dengan hatinya."
Muthraf berkata, "Apabila niat dan amalan seorang hamba tidak berbeda, Allah swt. akan berfirman, 'Inilah hamba-Ku yang sebenarnya.' Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterima amal dan ketaatan. Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi orang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterimanya amal dan ketaatan Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi oprang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah kunci setiap kebaikan, pembeda antara orang yang beriman dan orang munafik, serta pintu dan jalan untuk sampai ke derajat orang-orang yang jujur, yaitu derajat yang paling bagi makhluk setelah derajat para nabi dan rasul."


5. Jujur dalam hal keagamaan.
Jujur dalam agama adalah derajat kejujuran tertinggi, seperti jujur dalam rasa takut kepada Allah swt., mengharap ridha-Nya, zuhud, rela dengan pemberi-Nya, cinta dan tawakal. Semua perkara tadi memiliki fondasi yang menjadi tolok ukur kejujuran seseorang dalam menyikapinya. kejujuran juga memiliki tujuan dan hakikat. Orang yang jujur adalah mereka yang mampu mencapai hakikat semua perkara tadi dan mampu mengalahkan keinginan nafsunya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt. di dalam firman-Nya,

"Kebajikan itu bukanlah menghdapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, nak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."(al-Baqarah [2]:177)

C. Pengaruh Jujur dan Kebohongan
Nilai-nilai kejujuran memang cukup sulit untuk diterapkan pada setiap orang bila hatinya sudah dipengaruhi berbagai kepentingan dan keuntungan. Orang yang sering berteriak-teriak tentang kejujuran saja ternyata banyak yang berbulu musang. lidahnya bicara nilai-nilai kejujuran, namun pada saat lain batinnya bicara kemunafikan. Lidah dan hati justru mudah mereka permainkan. Dan memang dalam berbagai kehidupan sekitar saja mencari hal-hal jujur saja boleh jadi sangat sulit, apalagi pada masa sekarang ini, mencari orang jujur, ibarat mencari jarum ditumpukan jerami, sulit sekali!!!. Kejujuran saat ini sepertinya merupakan harga yang sangat mahal dan langka untuk diketemui. Cobalah lihat berapa banyak orang yang jujur dinegeri kita ini. Terjadinya krisis yang berkepanjangan di negeri kita salah satu penyebabnya adalah kita sering meninggalkan hal-hal yang jujur. Dengan ketidakjujuran mereka bangsa ini jadi terpuruk, dengan ketidakjujuran mereka orang jadi tidak menghargai hukum, Dengan ketidakjujuran mereka akhirnya moral tergadaikan. Yang paling mengerikan adalah bahwa ketidak jujuran bangsa ini sudah menjadi sebuah kesepakatan baik dalam bentuk lembaga maupun individual.


"Katakan yang benar walau terasa pahit", saat ini sangat sulit untuk dijalankan, kita semua terbelenggu dengan sebuah keraguan dan ketakutan dengan ungkapan seperti itu, ketika kita akan mengungkapkan sebuah kejujuran kita pasti berfikir akan adanya sebuah resiko. Padahal bagi orang yang sering menerapkan prinsip-prinsip kejujuran, biasanya mereka terlihat tenang dan damai, mereka tidak berfikir akan resiko karena mereka tahu bahwa mereka benar, mereka juga tahu bahwa prinsip seperti ini justru merupakan ajaran hidup yang dipuji oleh Tuhan, buat mereka kejujuran harus ada, mereka merasa bahwa mereka tidak ada beban sama sekali dalam hidup ini. Hidup dijalani apa adanya, mengalir seperti air. Orang-orang yang terbiasa jujur justru banyak yang segan dengan prilakunya, boleh jadi saat dia hidup tidak dipandang, namun setelah ia wafat orang akan tersu terkenang akan kebaikan dirinya karena ia terkenal dengan kejujurannya.


Pengaruh kejujuran bagi orang yang menjalaninya dengan baik sangatlah luar biasa. Orang yang terbiasa hidup jujur ketika akan melakukan kebohongan tentu akan berfikir akibat dari kebohongan itu, minimal antara dirinya dengan manusia, lihatlah contoh negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, semua maju dengan pesat dalam segala bidang, padahal negara-negara tersebut ada yang tidak beragama, kenapa mereka maju? karena mereka telah mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya, hanya mungkin yang kurang pada diri mereka hubungan dirinya dengan Tuhan. Yakinlah bahwa dengan kita menjungjung tinggi nilai kejujuran hidup kita tidak akan pernah gelisah, apalagi kejujuran itu sangat diagungkan oleh Tuhan. Ingat para nabi diturunkan dimuka bumi ini semua diperintahkan oleh Tuhan untuk jujur dalam mengungkapkan kebenaran, mereka dilarang untuk takut dalam mengungkapkan kebenaran, karena takut adalah merupakan sikap yang buruk dalam menjunjung tinggi sebuah kejujuran.

BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Kejujuran merupakan sifat yang tertanam pada diri manusia yang pada dasarnya kemauan pada diri manusia itu sendiri dengan membiasakan diri dan rasa kepercayaan diri yang kuat akan cenderung berdampak positif dari pada negative. Jika menerapkan sikap jujur, secara tidak langsung kita telah melatih kemampuan kita. Sampai dimana kemampuan kita? Itu pernyataan yang akan timbul dan terjawab sendiri dengan hasil yang di peroleh.

B. Saran
Mulailah bersikap jujur dari sekarang. Selalu bersikap jujurlah walau itu pahit. Karena dengan tidak jujur, masalah tidak akan selesai. Justru akan menambah masalah pada kita. Ingatlah bahwa Allah selalu tahu, walaupun itu tak tampak.

MAKALAH HADIS : RIYA


Sumber Gambar : Kotak Amal


BAB I

P E N D A H U L U A N



A. Latar Belakang
Sesungguhnya pembahasan tentang riya adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya  bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dan hadits-hadits yang berkenaan tentang riya?
2. Apakah ciri-ciri riya?
3  Apakah macam-macam riya?
4.  Apakah bahaya yang ditimbulkan riya?
5.  Apakah kiat dan solusi mencegah perilaku riya?
6.  Apakah perilaku yang tak termasuk riya?


BAB II

P E M B A HA S A N



A. Definisi Riya’

Riya’ adalah syirik kecil; demikianlah ungkapan yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اذْهَبُوْا 
(إِلَى الَّذِيْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمُ الْجَزَاءَ (رواه أحمد

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah SAW?”, Beliau menjawab, “Riya.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat, terhadap mereka-meeka yang riya, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya’, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR. Ahmad)

Riya adalah memaksudkan amalan yang dilakukan seseorang guna mendapatkan keridhoan manusia, baik berupa pujian, ketenaran, atau sesuatu yang diinginkannya selain Allah SWT. Dr. Sayid Muhammad Nuh, menggambarkan adanya tiga sebab yang memotori timbulnya riya: Pertama karena ingin mendapatkan pujian dan nama baik di masyarakat. Kedua, kekhawatiran mendapat celaan manusia, dan ketiga, menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain (tamak). Ketiga hal ini didasari dari hadits, yang diriwayatkan Imam Bukhari:



عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.
                                                                                                                                                                  
Dari Abu Musa al-Asyari ra, mengatakan bahwa seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW, seseorang berperang karena kekesatriaaan, seseorang berperang supaya posisinya dilihat oleh orang, dan seseorang berperang karena ingin mendapatkan pujian? Rasulullah SAW menjawab “Barang siapa yang berperang karena ingin menegakkan kalimatullah, maka dia fi sabilillah.” (HR. Bukhari)


B. Ciri-Ciri Riya’
1. Tidak akan melakukan perbuatan baik apabila tidak dilihat orang.
2. Amal atau perbuatn baik yang telah ia lakukan sering diungkti-ungkit atau disebut-sebut.
3. Beramal atau beribadah sekejar ikut-ikutan,itupun dilakukan apabila ia berada ditengah-tengah orang ramai.
4. Amal (perbuatan baiknya) selalu ingin diingat,diperhatikan ingin mendapat pujian dan ingin didengar orang lain.
5. Terlihat tekun dan bertambah motifasinya dalam beribadah apabila mendapat pujian dan sanjungan,sebaliknya semangatnya akan menurun bahkan meyerah apabila dicela orang.

C. Macam-macam Riya’
Ketahuilah wahai kaum Muslimin hamba hamba Allah ! Riya’ mengalir pada diri setiap manusia (keturunan Adam) melalui aliran darah. Tujuannya untuk mengusik dan membuyarkan semua amal perbuatan mereka. Riya’ ini sangat banyak macamnya. Antara lain :
1. Riya’ Badani (Fisik)
Para ahli agama (ahlu ad diin) biasanya menampakkan badan yang kurus dan pucat, agar mereka dilihat oleh manusia bahwa merena adalah hamba yang rajin beribadah. Dan memberikan asumsi umum bahwa mereka telah disibukkan oleh urusan akhirat.Para ahli dunia (ahlu ad dunya) melakukan riya’ dengan menampakkan tubuh yang gemuk dan sehat, warna kulit yang bersih, ketegapan berdiri, wajah yang ceria, kebersihan badan dan memperindah perkataan, untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka adalah orang yang pintar (fasih) dalam bertutur kata.

Mereka ini adalah orang yang dikatakan Allah seperti dalam FirmanNya :
Dan Apabila kamu melihat mereka, tubuh tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan mereka. Mereka adalah seakan akan kayu yang tersandar. Mereka mengira tiap tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka, mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran).” (Al Munafiqun :4)
2. Riya’ dalam berpakaian
Para penganut agama, mereka memakai pakaian sufi yang terkesan sangat kumal untuk menunjukkan kezuhudan mereka. Sebagian mereka juga memakai satu jenis pakaian khusus agar orang menyebutnya sebagai ulama. Ketika ia memakai pakaian tersebut orang pun menganggapnya sebagai ulama.
Adapun para ahlu dunia, riya’ mereka ditunjukkan dengan pakaian yang indah, kendaraan yang bagus dan rumah rumah mewah.
3. Riya’ dalam Perkataan
Para ahli agama, riya’ mereka terlihat pada hafalan hadist dan atsar, karena ingin bergaul dan berdiskusi dengan para ulama dan mengibuli orang orang bodoh, sehingga mereka merasa bahwa merekalah orang yang lebih tinggi kedudukannya di mata manusia.
Merendahkan dan mengeraskan suara ketika membaca Al Qur’an untuk menunjukkan ketakutan atau kekhawatiran dan kegelisahan dan lain sebagainya, juga merupakan bagian dari riya’. Wallahu a’lam
Para ahli dunia, riya’ mereka terlihat dengan menghafal bait bait syair, kata mutiara, mendalami tata bahasa dan sastra dalam percakapan dan terus menerus terlibat dalam pembicaraan.
4. Riya’ dalam Amal Perbuatan
Para ahli agama melakukan riya’ seperti orang shalat yang memperpanjang waktu berdiri, memperpanjang ruku’ dan sujud, memperlihatkan ke khusu’an dan ketundukan, dan memperindah shalatnya kalau mengetahui bahwa ada orang yang sedang memperhatikannya.
Adapun ahli dunia melakukan riya’ dengan sikap arogansi, kesombongan, mendekatkan langkah, memperindah pakaian untuk mendapatkan kehormatan yang mereka dambakan.
5. Riya’ dengan Para Sahabat dan Kerabat
Para ahli agama melakukan riya’ seperti misalnya orang yang mempersiapkan sebuah kunjungan seorang alim ulama, agar orang orang mengetahui bahwa si alim Fulan telah mengunjungi kediamannya.
Sebagian mereka melakukan riya’ dengan menunjukkan bahwa guru mereka banyak sekali agar ada asumsi dari masyarakat bahwa mereka telah bertemu dengan banyak guru, dan telah diberi ijazah oleh banyak guru.

D. Bahaya Riya’
Ada beberapa penjelasan tentang bahaya riya’, dan pengaruh buruk (dampak negatifnya) bagi individu, umat dan amal perbuatan, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah.Rasulullah S.A.W menjelaskan bahwa bahaya riya’ memiliki tingkatan yang bermacam macam, dan diungkapkan dengan ungkapan yang bermacam, diantaranya :
1. Bagi orang orang Musli, riya’ lebih bahaya dari fitnah Al Masih Ad Dajjal
Bahaya Masih Ad Dajjal tidak melanda orang yang akrab dengan Sunnah Rasulullah S.A.W. Oleh karenanya riya’ lebih besar bahaya bagi seorang Muslim.
Nabi S.A.W bersabda,
“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).
2. Riya’ lebih besar bahayanya dari serigala yang mengintai kambing.
Nabi S.A.W bersabda,
Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kerumunan kambing, bahayanya tidak lebih besar dari kerakusan manusia terhadap harta, membanggakan agamanya (riya’) (Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 2376, Imam Ahmad (3/456, 460), Imam Ad Darami 2/304, Imam Al Baghawi dalam Syarh sunnah 14/258, dan para perawi lainnya. Saya katakana, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi. Ini seperti yang pernah dikatakan. Meskipun Zakariya Abu Zaidah seorang yang mudallas, tetapi ini telah dijelaskan dengan pembicaraan Bukhari dalam kitab Tarikh Al Kabir 1/150).
~Bahaya Riya’ bagi Amal Perbuatan
a. Menyia nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknnya dan tujuan luhurnya
b. Membatalkan amal shalih dan meleburnya
Allah S.W.T berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al Baqarah : 264)
 “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya” (Al Baqarah : 266).
~Bahaya Riya’ bagi Umat dan Individu
a. Riya’ adalah syirik khafi.
Nabi S.A.W bersabda,
“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).
b. Riya’ mewariskan kehinaan dan kekerdilan.
Wahai hamba yang ikhlas, janganlah kamu terbujuk oleh tipu daya orang yang riya’ di suatu Negara, kemampuan mereka menguasai hamba, banyaknya kendaraan mereka dan kemewahan kendaraan mereka, karena bayang bayang maksiat ada diatas tengkuk mereka. Allah menolak, kecuali orang orang yangmelindungi orang orang yang durhaka kepadaNya.
Nabi S.A.W bersabda,
Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, maka Allah akan memperdengarkan pendengaran makhluknya kepadanya, mengerdilkan dan merendahkannya” (Shahih Targhib wa Al targhib (1/6)
c. Riya’ menghalangi pahala akhirat.
Nabi S.A.W bersabda,
Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, agama, keunggulan dan kekuatan di bumi. Barang siapa diantara mereka yang melakukan amal perbuatan amal perbuatan akhirat karena tujuan duniawi, maka di akhirat kelak ia tidak akan mendapatkan bagiannya” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/134, Imam Al Hakim 3/318 dan perawi lain dari jalur Abi Al ‘Aliyah dari Abi bin Ka’ab R.A. “Saya katakana, ini hadits shahih”).
d. Riya’ menambah kesesatan.
Allah S.W.T berfirman,
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah : 9-10)
e. Riya’ menyebabkan kehancuran umat.
Nabi S.A.W bersabda,
Allah akan menolong umat ini karena adanya orang orang yang lemah dengan doa dan shalat serta keikhlasan mereka.” (Shahih Al Targhib wa Al Targhib, 1/6)
Demikian pula Rasulullah S.A.W menetapkan bahwa keikhlasan karena Allah merupakan sebab kemenangan umat dari musuh musuh Islam. Tanpa ikhlas, maka itu riya’ dan nifak mungkin dapat dimanfaatkan oleh musuh musuh umat ini.
Hai orang orang Islam ! Sesungguhnya pelajaran Peperangan Badar Kubra selalu akan tersimpan di dalam hati orang yang ikhlas yang mau menunggu, selama mereka tidak mengubahnya.
Firman Allah dalam Al Qur’an,
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al Anfaal : 45-47).
Ayat ini bertujuan untuk menjaga golongan orang orang beriman yang tidak henti hentinya memerangi musuh musuh Allah, dengan cara keluar berperang dengan kesombongan dan keangkuhan. Karena orang beriman tidak akan keluar berperang kecuali untuk menegakkan kalimat Allah.


E.Kiat untuk menghilangkan penyakit riya’, menurut Imam Ghozali adalah :

1. Menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain, menghindari pahitnya ejekan dan anusias dengan apa-apa yang ada pada manusia, sebagaimana hadits Rasulullah saw dari Abu Musa berkata,”Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan mengatakan,’Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang orang yang berperang dengan gagah berani, orang yang berperang karena fantisme dan orang yang berperang karena riya’ maka mana yang termasuk dijalan Allah? Maka beliau saw bersabda,’Siapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah maka dia lah yang berada dijalan Allah.” (HR. Bukhori)
2. Membiasakan diri untuk menyembunyikan berbagai ibadah yang dilakukannya hingga hatinya merasa nyaman dengan pengamatan Allah swt terhadap berbagai ibadahnya itu.
3. Berusaha juga untuk melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya pada saat mengerjakan suatu ibadah.


F.Solusi Mengatasi Riya’
Berikut beberapa solusi untuk menghindari sikap riya, di antaranya yaitu:
1. Mengetahui bermacam macam Tauhid tentang Keagungan Allah S.W.T
Mengetahui Allah dengan segala nama dan sifatNya akan membersihkan hati dari kelemahan. Apabila seorang hamba mengetahui bahwa yang mampu memberi kemanfaatan dan kemudlaratan adalah Allah semata mata, kapan pun Dia menginginkan, maka rasa kekhawatiran kepada manusia akan hilang dari hatinya ketika syetan menghiasi ibadahnya di depan manusia, karena khawatir akan celaan manusia dan
2. Mengetahui Balasan Kenikmatan dan Kenikmatan yang Dijanjikan Allah S.W.T di Akhirat
Allah S.W.T berfirman,
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi :110)
3. Takut Terhadap Riya’
Barangsiapa yang takut terhadap suatu perkara dan selalu khawatir akan terjadinya perkara itu maka dia akan selamat. Oleh karenanya jika seseorang ingin menghilangkan keinginannya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan maka hendaknya ia mengingat sendiri akan bahaya riya’, dan mengemukakan bahayanya. Maka keinginan itu akan membantunya terlepas dari belenggu bahaya. Karena mengetahui adanya sanjungan manusia berpengaruh kepada syahwat dan mengetahui bahaya riya’ akan berpengaruh pada ketidaksukaan.
4. Menghindari Celaan Allah
Allah S.W.T berfirman :
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Al Baqarah : 166 – 167).

Apakah yang kamu takuti itu kemarahan manusia? Padahal Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu orang yang bernar.
5. Mengetahui Hal-Hal Yang Dihindari Oleh Syetan.
Syetan adalah musuh bagi manusia. Syetan merupakan sumber riya’ dan malapetaka yang dating kepada manusia dalam setiap keadaan manusia. Syetan mengirimkan bala tentaranya untuk menghancurkan benteng ketahanan manusia. Syetan juga mendatangkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kakinya untuk menyampaikan janji janjinya. Yang dijanjikan syetan itu hanyalah tipu daya, dan ia menghiasi setiap hal hal yang mungkar.
6. Menyembunyikan Amal Kebaikan
Orang yang ikhlas akan selalu khawatir dengan riya’. Oleh karenanya mereka berusaha untuk memperdaya agar penglihatan manusia berpaling darinya ketika melakukan perbuatan baiknya. Orang orang yang ikhlas memiliki kekhawatiran yang besar untuk menjaga keburukan yang datang dari manusia. Itu semua dilakukan dengan harapan agar amal perbuatannya dilakukan dengan ikhlas. Agar pada Hari Kiamat nanti Allah membalas keikhlasan mereka.
Rasulullah S.A.W  bersabda,
Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai hamba yang suci dan suka menyembunyikan amal.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim 18/100-Nawawi, Imam Al Baghawi dalam Syarh Al Sunnah 15/21-22, lafadz hadits ini milik Al Baghawi).
7. Tidak Berlebihan Dalam Mencela dan Memuji Orang
Banyak orang yang hancur karena khawatir akan pujian manusia, senang akan pujiannya. Sehingga aktifitas, dan diamnya itu menyesuaikan dengan keridhaan manusia, yang mengharap pujian atau menghindari celaan.
Allah S.W.T berfirman,

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus : 58).
Seperti dikatakan Allah S.W.T,
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman” (An Nisaa : 57).
8. Berdoa
Kita mengetahui bahwa Rasulullah S.A.W mendoakan agar kita terhindar dari syirik besar dan syirik kecil, yaitu riya’. Diriwayatkan oleh Abi Ali, seorang laki laki dari Bani Kahil, berkata,”Abu Musa Al Asy’ari berkhutbah di hadapan kita, dan berkata,”Wahai manusia takutlah kamu kepada syirik ini. Karena ia lebih halus dari rambatan semut
9. Berteman Dengan Orang Ikhlas dan Bertaqwa
Orang yang ikhlas tidak akan menghilangkan keikhlasannya kepadamu sedikitpun. Orang yang riya’ adakalanya akan menyebabkan kamu terjerumus dalam kehancuran, atau kamu akan mencium aroma riya’ yang sangat busuk yang akan semakin mendorong dan memotivasi dirimu untuk melakukan riya’ dan suka kepada orang yang riya’.
10. Mengetahui Faktor Faktor Yang Menyebabkan Riya’
Semoga Allah mengaruniakan kebaikan (surga) dan tambahan (perjumpaan denganNya) kepada kita. Ketahuilah wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Allah telah mengajarkan kepada kami juga kamu hal ini adalah sejumlah bahaya riya’. Jadilah kamu orang yang selalu mewaspadainya. Instropeksilah dirimu. Sesungguhnya riya’ itu lebih halus dari bulu pada seekor semut.

G.Perbuatan yang Tidak Tergolong Riya’
beberapa perbuatan yang tidak tidak tergolong riya’, antara lain:
1. Pujian yang diberikan seseorang atas amal kebaikan yang dilakukan tanpa tujuan apapun dari manusia.
2. Aktivitas seorang hamba yang melakukan amal shalih di hadapan manusia, dan bersahabat dengan orang orang ikhlas dan shalih.
3. Menyembunyikan DosaSetiap Muslim hendaknya tidak mengumbar umbar dosanya, akan tetapi menyembunyikannya. Karena pembicaraan tentang maksiat akan menebarkan kejahatan diantara orang Mukmin, dan menyebabkan meremehkan batas batas yang telah ditetapkan Allah S.W.T.
4. Memperindah Pakaian, Sandal atau Lainnya
Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi S.A.W yang bersabda,
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat dosa sekecil biji sawi seperti sombong.” Seseorang berkata, “Ada seseorang yang suka agar pakaian dan sandalnya terlihat bagus.”
Nabi S.A.W bersabda,
Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang indah; kesombongan adalah keangkuhan yang sesungguhnya dan (ghamth) manusia.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim 2/89 Nawawi dan para perawi lainnya)
5.Menampakkan Syi’ar Syi’ar Islam
Islam mengandung ibadah yang tidak mungkin disembunyikan, seperti haji, umrah, shalat jum’at dan lain lain. Seorang hamba tidak dikatakan riya’ ketika melakukannya di muka umum, karena bagian dari kewajiban seorang Muslim adalah mempublikasikan, dan mempopulerkannya
                                                                                                                                                                   
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:
1.  Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia, adapun secara istilah yaitu: melakukan ibadah dengan niat dalam hati karena demi manusia,dunia yang dikehendaki dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT
2. Riya’ adalah memperlihatkan (menampakkan) diri pada orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya ,baik melalui dari pembicaraan, tulisan, atau pun sikap dan perbuaan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah.
3.  Riya’ itu bisa terjadi di dalam niat, yaitu ketika kita akan melakukan pekerjaan dan bisa juga terjadi ketika malakukan pekerjaan atau setelah selesai melakukan pekerjaan.
4.  Riya’ berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain . Terhadap diri ssendiri , bahaya riya’ itu akan dirasakan oleh dirinya sendiri berupa ketidak puasanan, rasa hampa sakit hati dan penyesalan
5.  Dampak riya’ kepada orang lain yaitu ketika orang yang telah dibantu kemudian diumpat dan dicaci itu pasti akan tersinggung dan akhirnya terjadilah perselisihan antara keduanya.
6.  Perbuatan riya’ itu sangat merugikan, kerena itu Allah tidak akan memberi pahala atas perbuatannya.
7.  Hikmah dari dilarangnya perbuatan riya adalah mendapatkan ridho dari Allah membuat, hati tenang dan tentram, mempermudah kita bergaul dengan masyarakat
8.  Sebab-sebab Terjadinya Perilaku Riya

  •         Lingkungan keluarga.
  •         Tidak mengenal Allah SWT dengan baik.
  •         Keinginan yang berlebihan untuk menjadi pemimpin atau meraih jabatan.
  •         Ketamakan kepada harta.
  •         Kekaguman yang berlebihan dari orang lain.
  •         Kekhawatiran penilaian yang kurang menyenangkan dari orang lain.


B. Saran
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat disarankan agar:
1. Orang-orang diharuskan menjauhi sifat RIYA karena sifat Riya sangat di benci Allah SWT.
2. Sifat riya membuat seseorang menjadi tidak sadar apa yang telah dia lakukan.
3. Banyaklah bertwakal kepada allah dan selalu mengingat Allah agar kita terhindar dari sifat riya.

MAKALAH HADIS : CINTA SESAMA MUSLIM


Sumber Gambar : http://warunginternet.hol.es/wp-content/uploads/2013/06/ukhuwah.jpg


BAB I
P E N D A H U L U A A N
     A.    Latar Belakang Masalah

       Cinta sesama muslim sebagian dari iman, muslim itu saudara muslim, Nabi SAW bersabda: Agama islam memang lah ampuh, saat manusia memperbanyak perang antar kelompok ,islam justru mempersatukannya (kelompok /suku kabilah ) dan diganti dengan iakatan akidah,kita pun dikenalkan dengan istilah ukhuwah islamiyyah, persaudaraan islam salah satu tandanya adalah mencintai sesama muslim Nabi SAW,bersabda: “belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri
       Berangkat dari hadis diatas kita mencoba mengulas lebih dalam tentang realisasi iman dalam kehidupan sosial. Dengan menyajikan hadis-hadis tentang cinta sesama muslim dan cara-cara berperilaku /bersosialisasi dengan muslim yang lain.

      B.     Rumusan Masalah 

       Untuk membatasi pembahasan dan mempermudah dalam penyajian makalah ini, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut:
                              1.            Bagaimanakah pengertian iman itu?
                              2.            Apakah yang dimaksud  dengan cinta sesama muslim ?
                              3.            Apakah ciri seorang muslim tidak mengganggu orang lain ?
                              4.            Bagaimanakah realisasi iman dalam menghadapi tamu ?

      C.    Tujuan Masalah

1)      Mengetahui pengertian iman
2)      Mengetahui tentang cinta sesama muslim
3)      Mengetahui realisasi iman dalam menghadapi tamu








BAB II
P E M B A H A S A N

            A.    REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
1.      pengertian iman
berbicara tentang iman ini adalah sesuatu yang abstrak ,hal yang berkenaan dengan hati tentunya tidak satu pun yang tahu akan sesuatu yang ada didalamnya kecuali individu masing-masing yang maha menguasai setiap hati yakni Allah SWT. Namun sebagai manusia yang lemah ,kita dapat menilai apakah seorang itu benar-benar beriman yang baik/tidak tentangnya dapat dinilai dari perbuatan baik maupun buruk yang nyata dalam kehidupannya.
Karena iman tidak hanya cukup dengan pengakuan hati tetapi harus tersosialisasi dalam kehidupanya. Bila baik perilakunya itu adalah indikasi bahwa imanya bagus ,sebaliknya bila jelek berarti imanya rusak, maka penting bagi kami untuk membahas tentang hal tersebut.
Seseorang tidaklah cukup hanya menganut islam tanpa mengiringinya iman. Begitu pula sebaliknya islam tanpa iman tidaklah berarti.akan tetapi iman dan islam juga belumlah cukup karena harus dibarengi ihsan.iman adalah percaya kepada Allah SWT.para malaikat-Nya berhadapan pada Allah,percaya pada rosul-rosul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur.[1]
z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî$oY­/u šøs9Î)ur çŽÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ    
285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Disini dapat dijelaskan bahwa iman artinya kepercayaan,yang artinya percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada dan Esa,tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya

a.      Cinta sesama muslim sebagian dari iman
1.      Hadis pertama

 عن انس رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلم قا ل : لا يوِمن احد كم حتّى يحبّ لا خيه ما يحبّ لنفسه
.( رواهالبخا رى ومسلم واحمد والنسائ)
‘’ Anas r.a.berkata bahwa Nabi SAW. Bersabda, “tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” { H.R. Bukhari,Muslim,Ahmad,dan Nasa’i }

Kita tidak mengetahui bahwa cinta sesama muslim merupakan hubungan horizontal yang masih dipupuk dan dilestarikan, bahkan dalam sebuah hadist menyatakan,bila salah seorang diantara kamu kita pun mengalami hal yang sama, kita harus yakin seberat apapun beban yang ada dipundak akan terasa ringan bila kita saling membagi.
Seseorang mukmin yang ingin mendapat ridho Allah SWT. Harus berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya. Salah satunya adalah mencintai sesama saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya,sebagaimana dinyatakan dalam hadist diatas.
Namun demikian,hadis di atas  tidak dapat diartikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya berarti tidak beriman. Maksut pernyataan  كم  احدلايومن     pada hadis diatas “tidak sempurna keimanan seseorang “jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri .[3]
Hadis diatas juga menggambarkan bahwa islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani,yang dasarnya keimanandan bukan hal-hal lain,sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah SWT. Dengan kata lain,persaudaraan yang didasarkan lillah, sebagaimana diterangkan dalam banyak hadis tentang keutamaan orang yang saling mencintai Karena Allah SWT. Dalam hadis lain,Rasulullah SAW.menyatakan:
انّ ا لمؤ من للمؤ من كا لبنيا ن يثدّ بعضهم بعظا < روا ها لبخا ر ى ومسلم >
Artinya :
“ sesungguhnya antara seorang mukmin dengan mukmin lainya bagaikan bangunan yang saling melengkapi (memperkokoh)satu sama lainnya.”  (H. R. Bukhari dan Muslim )
Sebaiknya, dalam mencintai sesama muslim, harus mengutamakan saudara-saudara seiman yang betul-betul taat kepada Allah SWT. Rasulullah  SAW. memberikan contoh siapa saja yang harus terlebih dahulu dicintai, yakni mereka yang berilmu, orang-orang terkemuka, orang-orang yang suku berbuat kebaikan, dan lain-lain sebagaimana diceritakan dalam hadis:

عن عبد الله ا بن مسعو د ر ضي الله عنه قا ل : قا ل ر سو ل الله صلىّ الله عليه و سلّم:ليلّينى منكم او لو ا ا لاحلا م و ا لنّهى ثم يلو نهم ثلا ثا وا يّا كم و هيشا ت ا لا سوا ق. < رواه مسلم >

Artinya :
“Abdullah  Ibn Mas’ud R.A., Ia Berkata Rasulullah SAW.Bersabda , Hendaknya Mendekat Kepadaku Orang-Orang Dewasa Dan Yang Pandai,Ahli-Ahli Pikir. Kemudian Berikutnya Lagi. Awaslah! Janganlah Berdesak-Desakan Seperti Orang-Orang Pasar.”
( H. R.Muslim)   
      Hal itu tidak berarti diskriminatif karena islam pun memerintahkan umatnya untuk mendekati orang-orang yang suka berbuat maksiat dan memberikan nasihat kepada mereka atau melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.[4]

b.      Ciri seorang muslim tidak mengganggu orang lain (AN: 3)
عن عبد الله بن عمرعن النّبيّ ص.م قا ل : المسلم من سلم المسلمون من لسا نه و يد ه , المها جر من هجر ما نهى الله عنه .
Terjema hadis:
“Abdullah bin Umar berkata bahwa Nabi SAW. telah bersabda “seseorang muslim adalah orang yang menyebabkan orang-orang islam (yang lain) selamat dari lisan dan tanganya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah SWT.”
(H.R. Bukhari,Abu Dawud, dan Nasa’i )
Hadis di atas mengandung dua pokok bahasan, yakni tentang hakikat seorang muslim,dalam membina hubungan dengan sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam pandangan islam.
Orang Yang mengucapkan dua kalimah syahadat telah tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya ( haqiqi ) , ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak disukai olehnya.

Tidak dikatakan sempurna keislaman seseorang jika ia hanya memperhatikan ibadah rutual  yang berhubungan dengan Allah SWT.,Tetapi melupakan atau meremehkan hubungan dengan manusia. Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang mengatur tentang hal ini sehingga tercipta keharmonisan hidup,tidak terjadi pertentangan atau bentrokan antar sesama muslim.
Dalam hadis diatas dinyatakan bahwa seorang muslim adalah oramg yang mampu menjaga dirinya sehingga orang lain selamat dari kezaliman atau perbuatan jelek tangan dan mulutnya. Dengan kata lain,ia harus berusaha agar saudaranya sesama muslim tidak merasa disakiti oleh tangannya, baik fisik seperti dengan memukulnya,merusak harta bendanya,dan lain-lain atau pun dengan lisannya.kalaupun ia pernah menyakiti saudaranya tanpa disengaja,ia harus segera memberikan pertolongan sesuai kemampuanya.
Dengan demikian,seseorang harus berusaha untuk tidak menyakiti saudaranya dengan cara apapun dan kapan pun.sebaliknya ia selalu berusaha menolong dan menyayangi saudaranya seiman sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Hal itu karena menjaga orang lain, baik fisik maupun perasaannya sangat penting dalam islam. Tidak heran qalau amalan amalan sedekah akan batal jika disertai dengan sikap yang dapat menyakiti mereka yang diberi sedekah. Allah SWT. Berfirman:
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=ÏÜö7è? Nä3ÏG»s%y|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3sŒF{$#ur$x  ....
( ا لبقرة )
264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),............
                                                                        ( Q.S. Al- Baqarah: 264 )
Oleh karena itu,setiap muslim harus berhati-hati dalam bertingkah laku. Jangan asal berbicara bila tidak ada manfaatnya. Jangan berbuat sesuatu bila hanya menyebabkan penderitaan orang lain.karena segala tindakan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabanny kelak diakhirat sebagaimana dinyatakan dalam firma –Nya:
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ     
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
                                                                        ( Q. S. Al-Isra: 36)
Disamping itu, jika seseorang berbuat doasa kepada sesama manusia, Allah SWT. Tidak akan mengampuni dosanya sebelum orang yang pernah disakitinya itu memaafkannya.
Memang sagat berat bagi orang yang terbiasa melakukan sesuatu yang dilarang agama maupun melakukan sesuatu yang telah diperintahkan agama untuk mengubah perilakunya,pada hal ia mengakui bahwa dirinya beriman.dalam hati kecilnya, ia mengakui bahwa perbuatan yang selama ini   dilakukannya adalah salah. Akan tetapi,kalau didasari niat yang betul, semuanya akan mudah. Ia akan berpindah dari jalan yang dimurkai  Allah SWT. Menuju jalan yang diridhoi-Nya  Allah SWT. Pasti akan menyertai orang-orang yang ingin taat kepada-Nya dan memberikan pahala dan kebahagiaan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#rãy_$ydur (#rßyg»y_ur Îû È@Î6y «!$# ôMÏlÎ;ºuqøBr'Î/ öNÍkŦàÿRr&urãNsàôãr& ºpy_uyŠ yYÏã «!$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ç/èf tbrâͬ!$xÿø9$# ÇËÉÈ    
20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
                                                                        (Q.S. At-Taubah:20)
Hijrah dapat diartikan sebagai perjalanan pajang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan perjalanan pajang untuk memperoleh ridha-Nya. Untuk menempuh suatu perjalanan diperlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam islam adalah aqidah yang kuat. Oarang yang kuat imannya tidak akan mudah tergelincir pada perbuatan yang menyimpang perintah-Nya. Jika tergelincir kepada perbuatan yang salah, ia segera berhijrah dari perbuatan jelek tersebut kepada perbuatan-perbuatan baik,sesuai perintah-Nya.[5]

c.       Realisasi iman dalam menghadapi tamu(An:47)

عن اب هر يرة رضي الله عنه قال : قا ل رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : من كا ن يؤ من با لله و اليو م الاخر فليكر م ضيفه ومن كا ن يؤ من با لله وا ليوم الا خر فليكرم ضيفه ومن كا ن يؤ من بالله واليوم الا خر فليقل خير ا وليصمت .
Terjemahan hadis:
“ Abu Hurairah r.a.,ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda “ barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir,dia harus memuliakan tamunya : barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berbuat baik kepada tetangganya ;dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berkata baik atau diam.”
                                                      ( H. R. Syaikhani dan ibnu Majah )
Dalam hadis diatas, ada tiga perkara yang didasarkan atas keimanan kepada Allah dan hari akhir, yakni:
Ø  memuliakan tamu
Ø  memuliakan tetangga
Ø  berbicara baik atau diam
Adapun alasan penyebutan dua keimanan,yakni :
·         iman kepada Allah
·         dan hari akhir
karena iman kepada Allah adalah  merupakan permulaan segala sesuatu dan tangan-Nya lah segala kebaikan dan kejelekan sedangkan hari akhir adalah merupakan akhir kehidupan dunia,yang didalamnya mencakup hari kebangkitan mahsyar, hisab, dan surga-,neraka, dan banyak sekali yang harus diimani pada hari akhir tersebut. Dengan demikian,seandainya manusia betul-betul beriman kepada Allah dan hari akhir, ia akan berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran dan kemaksiatan.
Namun tidak berarti bahwa orang yang tidak memuliakan tamu dan tetangga,serta tidak berkata yang baik dianggap tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.maksut iman kepada Allah dan hari akhir adalah sebagai penyempurna iman. Ketiga hal diatas sangat penting dalam kehidupan sosial.
v  Memuliakan Tamu
Maksud memuliakan tamu dalm hadis diatas mencakup perseorangan maupun kelompok. Tentu saja hal ini dilakukan berdasarkan kemampuan,bukan karnariya. Dalam syari’at islam,batas memuliakan tamu adalah tiga hari tiga malam,sedangkan selebihnya merupakan sedekah, hal itu didasarkan pada hadis Rasulullah SAW.:
عن ابى ثر يح خو يلد بن عمرو ( الخزاعى) رضيا لله عنه قال: سمعت رسول الله صل الله عليه وسلّم يقول: من كان يو من با لله واليوم الاخر فليكرم ضيفه جا عزته, قال: يارسولالله ؟ وماجا عزته؟ قال: يومه وليلته والضّيا فة ثلا ثة اياّم , فما كا ن وراء ذ لك فهم صد قة عليه . < متفق عليه >
Artinya:
“Abu syuaih (khuwailid) bin Amru Al- khuza ‘ir r.a. berkata ,saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda ‘siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian ,ia harus menghormati tamunya pada bagian keistimewaannya. Sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan keistimewaannya itu? Jawab Nabi, hormat tamu itu sampai tiga hari, sedangkan selebihnya dari shadaqah.”(Mutafaq Alaih)
Diantara hal-hal yan harus diperhatikan dalam memuliakan tamu adalah memberikan sambutan yang hangat. Hal ini akan lebih baik dari pada di sambut hidangan yang mahal-mahal, tetapi dengan muka masam dan kecut. Namun dalm menjamu tamunya ini haruslah sesuai dengan kemampuan.
Seandainya kedatangan tamu yang bermaksud meminta tolong tentang suatu masalah atau kesulitan, sebagai orang muslim kita harus memberinya bantuan semampunya. Apabila tamunya tidak mengatakan suatu kebutuhan, tetapi kita mengetahui bahwa tamu tersebut dalam keadaan kafir,sedangkan kita mampu,berilah bantuan apalagi kalau tamu tersebut masih kerabat.
Dan sebaiknya pihak tamu pun harus mengerti ketentuan bertamu dalam islam.
v  Memuliakan Tetangga
Maksut tetangga disini adalah umum, baik yang dekat maupun jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasik, musuh dan lain-lain, yang bertempat tinggal dilingkungan rumah kita. Namun demikian, dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan-tingkatan antara satu tetangga dengan lainnya. Seorang ahli ibadah yang dapat dipercaya dan dekat rumahnya lebih utama untuk dihormati dari pada para tetangga lainya.
Berbuat baik kepada tetangga itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya memberi pertolongan , memberikan pinjaman, menengoknya jika sakit , melayat jika ada keluarganya yang meninggal ,dan lain-lain.
Selain itu,diharuskan pula menjaga mereka dari ancaman gangguan dan bahaya. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Siti Aisyah disebutkan.

ما زال جبريل يو صين با لجار حتّى ظننت ا نّه سيورثه.
Artinya:
“Malaikat Jibril senantiasa memberi wasiat kepada ku (untuk menjaga ) tetangga sehingga aku menyangka bahwa dia (malaikat Jibril) akan mewarisinya (tetangga).”  
Perintah  untuk berbuat baik terhadap tetangga juga terdapat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:
 .........( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ÉÎ/ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Í$pgø:$#ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# Í$pgø:$#ur
 É=ãYàfø9$#É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä `tB 
tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC#·qãsù ÇÌÏÈ
36.Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, Ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
[294] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim.
Diantara akhlak yang terpenting kepada tetangga adalah :
ü  Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bergembira.
ü  Menjenguknya tatkala sakit.
ü  Bertakziyah ketika ada keluarganya yang meninggal.
ü  Menolongnya ketika memohon pertolongan
ü  Memberikan nasihat dalam bebagai urusan dengan cara yang ma’ruf,dll    
v  Berbicara baik atau diam
Sesungguhnya ucapan seseorang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan dirinya. Orang yang selalu menggunakan lidahnya untuk berbicara baik, memerintah kepada kebaikan dan melarang kepada kejelekan, membaca Al-Qur’an,membaca ilmu pengetahuan,dan lain-lain,ia akan mendapatkan kebaikan dan dirinya pun terjaga dari kejelekan. Sebaliknya orang yang apabila menggunakan lidahnya untuk berkata-kata jelek atau menyakiti orang lain,ia akan mendapat dosa dan tidak mustahil orang lain pun akan berbuat demikian kepadanya. Maka perintah Rasulullah untuk berkata baik atau diam merupakan suatu pilihan  yang akan mendatangkan kebaikan.
Memang sangat sulit untuk mengatur lidah agar selalu berkata baik atau diam. Akan tetapi,kalau berusaha untuk membiasakannya, tidaklah sulit apalagi kalau sekedar diam. Bagaimana pun juga,lebih baik diam dari pada berbicara yang tiada berguna dan tidak karuan
عن انس قال :قال رسو ل الله صلّ الله عليه و سلم الصمت حكمة و قليل فاعله.

Artinya:
Dari Anas .ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW.,” Diam itu suatu kebijaksanaan, tetapi sedikit orang yang berbuatnya .”
(dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, dengan sanad yang dha’if,dan ia menyahihkan bahwa hadis tersebut mauquf dari ucapan Luqman Hakim).
Namun demikian,jika selamanya diam tentu saja bukanlah tingkah laku yang bijak sana ,karena akan ada anggapan yang tidak baik dari orang lain. Ada pepatah mengatakan, “the silent is gold’ tetapi ada juga pepatah lain ”  lebih baik banyak berbuat dan berkata walaupun salah daripada tidak pernah melakukan sesuatu dan tidak pernah berbicara.”yang paling baik tentu saja berbicara baik sesuai kondisi, pepatah Arab mengatakan.

لكل مقا م مقال و لكلّ مقا ل مقا م
Artinya :
“ Tiap-tiap tempat ada perkataannya dan tiap-tiap ucapan ada tempatnya.”
Ucapan yang baik serta bersikap pemaaf lebih baik dari pada sedekah yang disertai ucapan yang menyakitkan :
Allah SWT berfirman :
* ×Aöqs% Ô$rã÷è¨B îotÏÿøótBur ×Žöyz `ÏiB 7ps%y|¹ !$ygãèt7÷Ktƒ ]Œr& 3ª!$#ur ;ÓÍ_xî ÒOŠÎ=ym ÇËÏÌÈ  
263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf[167] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

[167] Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan cara yang baik, dan maksud pemberian ma'af ialah mema'afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima.


BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
       Salah satu kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia me
ncintai dirinya sendiri. hal itu direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang didasarkan atas keimanan yang teguh kepada allah swt.
       Diantara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah tidak mau menyakiti saudaranya seiman selain itu, ia pun berusaha untuk berhijrah (pindah )dari melakukan perbuatan yang dilaranga Allah kepada perbuaytan yang diridhai-Nya .
       Untuk keesempurnaan iman dan sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah SWT. dan hari akhir, seorang  mukmin
 harus memuliakan tetangga, tamu, dan berkata atau diam.

B. Saran dan Kritik
       Demikian makalah ini kami buat ,tentu masih banyak kesalahan dan kekurangan .saran dan kritik senantiasa kami harapkan agar menjadi lebih baik lagi dalam membuat makalah ini semoga makalah ini bermanfaat dan memberi pengetahuan bagi para pembaca.
Back To Top